
Pasar keuangan global bergerak sedikit menguat pada awal perdagangan Jumat, didukung perkembangan geopolitik yang beragam, data ekonomi AS yang kuat, dan optimisme bahwa pertumbuhan global dapat tetap tangguh meski menghadapi ketegangan perdagangan dan geopolitik terkait Presiden Donald Trump.
Klaim tunjangan pengangguran awal AS turun di bawah 200.000 untuk pertama kalinya sejak pekan yang berakhir pada 1 November. Jika angka sekali waktu tersebut dikecualikan, jumlahnya menjadi yang terendah selama pemerintahan Trump. Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (Fed) dapat bersikap sabar sebelum mengambil langkah kebijakan berikutnya.
Data tersebut menguatkan dolar AS dan mendorong euro ke level terlemahnya sejak awal Desember. Dolar juga mendapat dukungan dari klaim tunjangan pengangguran yang berada di level terendah dalam enam pekan, Indeks Manufaktur Fed Philadelphia yang mencapai level tertinggi dalam empat bulan, serta hasil kuat dari Indeks Manufaktur Empire State New York.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga terus mereda. Peluang pemangkasan pada April turun menjadi 37% menjelang rapat yang diperkirakan menjadi rapat terakhir Jerome Powell sebagai Ketua Fed. Prospek yang tidak terlalu dovish ini telah mendukung dolar sepanjang tahun. Presiden Federal Reserve San Francisco Mary Daly mengatakan kebijakan moneter AS berada pada posisi yang baik untuk merespons perubahan ekonomi. Namun, keputusan mendatang harus diambil dengan hati-hati dan cermat karena ketidakpastian terkait inflasi dan ketenagakerjaan masih berlanjut.
Presiden Donald Trump diperkirakan akan mengumumkan intervensi yang belum pernah terjadi sebelumnya di pasar energi AS, termasuk “lelang listrik darurat” yang akan mewajibkan perusahaan teknologi besar ikut mendanai penambahan kapasitas pembangkit listrik untuk mendukung pesatnya ekspansi pusat data.
Ketegangan geopolitik terkait Iran masih tinggi. Laporan mengenai pergerakan kapal induk AS menuju Timur Tengah awalnya dianggap sudah kedaluwarsa. Namun, Wakil Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan bahwa Teheran tidak menginginkan eskalasi, tetapi akan merespons setiap agresi dengan tegas dan sesuai hukum. Fox News kemudian melaporkan bahwa setidaknya satu kapal induk AS sedang menuju kawasan tersebut dan para pejabat pertahanan tengah menyiapkan beberapa opsi militer, sehingga risiko eskalasi tetap ada.
Di Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) mengisyaratkan bahwa belum ada pembahasan mengenai suku bunga dalam waktu dekat. Kepala Ekonom ECB Philip Lane mengatakan pengaturan kebijakan saat ini diperkirakan tetap menjadi acuan selama beberapa tahun, selama perkembangan ekonomi zona euro secara umum sejalan dengan proyeksi.
Yen Jepang menguat setelah Menteri Keuangan Jepang Katayama kembali menegaskan bahwa intervensi valuta asing tetap menjadi opsi dan mengatakan bahwa ia “tidak akan mengesampingkan opsi apa pun”, termasuk kemungkinan tindakan bersama. Penguatan yen juga didukung laporan bahwa sejumlah pembuat kebijakan di Bank of Japan (BOJ) melihat peluang untuk menaikkan suku bunga lebih cepat daripada perkiraan pasar. Namun, yen masih menghadapi tekanan struktural. Salah satu penyebabnya adalah ekspektasi politik bahwa kemenangan dalam pemilu mendadak bagi Perdana Menteri Sanae Takaichi akan mendukung kebijakan fiskal ekspansif, sehingga pemulihan yen yang berkelanjutan sulit tercapai.
Kanada dan China berupaya memperbaiki hubungan, dengan fokus pada kerja sama yang lebih erat di bidang pertanian dan energi.
Di Selandia Baru, data tetap mendukung. Indeks Manajer Pembelian (PMI) sektor manufaktur naik menjadi 56,1 pada Desember, level tertinggi sejak 2021. Seluruh subindeks menunjukkan ekspansi, dengan pesanan baru mencatat kenaikan terbesar.
Dalam kondisi ini, Indeks Dolar AS (DXY) bergerak di dekat level tertinggi dalam enam pekan dan berpotensi mencatat kenaikan mingguan selama tiga pekan berturut-turut. Kondisi ini menekan EURUSD dan GBPUSD serta membebani emas dan perak. USDJPY mengikis kenaikan mingguannya, sementara NZDUSD dan AUDUSD berpeluang mencatat kenaikan mingguan. USDCAD hampir memutus tren kenaikan selama dua pekan, meski harga minyak—salah satu ekspor utama Kanada—melemah. Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) melanjutkan penurunan terkini, tetapi masih mencatat kenaikan mingguan. Sementara itu, saham Asia-Pasifik bergerak sedikit menguat setelah Wall Street ditutup positif.



Dolar AS yang lebih kuat, ditambah komentar beragam dari Kepala Ekonom Bank Sentral Eropa (ECB) Philip Lane, menekan EURUSD dan mendorong pasangan ini menuju penurunan mingguan ketiga berturut-turut. GBPUSD juga menuju penurunan mingguan, meski data Inggris yang dirilis pada Kamis secara umum cukup positif.
Sementara itu, USDJPY turun ke level terendah dalam tiga hari dan memangkas kenaikan mingguannya. Spekulasi tentang kemungkinan intervensi Jepang untuk mendukung yen Jepang (JPY) serta ekspektasi yang kian kuat akan kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) semakin menguat di tengah sesi trading yang sepi dan lesu.
Meski penguatan dolar AS belakangan ini menekan dolar Australia, dolar Selandia Baru, dan dolar Kanada, mata uang tersebut masih berpeluang mencatat kenaikan mingguan berkat reli pada awal pekan dan kabar stimulus terkait China. NZDUSD mendapat dukungan tambahan dari data Indeks Manajer Pembelian (PMI) sektor manufaktur Selandia Baru yang menggembirakan, seperti dibahas sebelumnya. Sementara itu, membaiknya hubungan China–Kanada mengimbangi pelemahan harga minyak mentah, salah satu ekspor utama Kanada, sehingga USDCAD berpeluang mencatat kenaikan mingguan pertamanya dalam tiga pekan.
Meski dolar AS yang menguat dan meredanya risiko geopolitik menekan pembeli emas, logam mulia ini masih berpeluang mencatat kenaikan mingguan selama tiga pekan berturut-turut, terutama setelah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada awal pekan. Perak juga bergerak naik dan menunjukkan penguatan lebih besar, didukung reli kuat sebesar 160% pada 2025. Namun, tantangan yang kian besar terhadap sikap dovish Federal Reserve (Fed) serta penguatan USD dapat memicu koreksi harga emas batangan yang telah lama dinantikan jika kondisi ini berlanjut.
Harga minyak turun lebih dari 3,0% pada Kamis setelah pemerintahan Trump mengurungkan kemungkinan serangan terhadap Iran. Namun, risiko masih ada setelah muncul laporan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meminta Presiden Donald Trump menunda tindakan, sehingga potensi eskalasi lebih lanjut atau peningkatan kehadiran militer AS tetap terbuka. Akibatnya, harga minyak mentah, atau emas hitam, bergerak beragam sepanjang pekan ini dan kembali turun pada Jumat, untuk hari ketiga berturut-turut.
Saham AS bertahan di zona positif. Saham teknologi memimpin kenaikan pada awal sesi, sementara Russell 2000 kembali mengungguli indeks lain berkat kinerja bank yang kuat. Goldman Sachs dan Morgan Stanley melonjak tajam setelah merilis hasil kinerja mereka.
Ketidakpastian kebijakan perdagangan kembali mencuat setelah Gedung Putih menyatakan bahwa tarif baru sebesar 25% atas sejumlah kecil chip kecerdasan buatan (AI) canggih hanyalah “tahap pertama”, dan kebijakan yang lebih luas terhadap semikonduktor masih mungkin diberlakukan. CEO DeepMind milik Alphabet mengatakan bahwa China hanya tertinggal beberapa bulan dari model AI terkemuka AS. China juga mengambil langkah untuk membatasi trading berkecepatan tinggi dan trading algoritmik dengan membatasi akses ke server bursa.
Di AS, seorang anggota parlemen Virginia Barat mengusulkan agar kas negara bagian diizinkan menginvestasikan hingga 10% dari cadangannya pada logam mulia, aset digital yang memenuhi syarat, dan stablecoin yang disetujui. Undang-Undang Perlindungan Inflasi, yang diperkenalkan oleh Chris Rose, bertujuan melindungi nilai dari inflasi dan penurunan nilai mata uang, sehingga mendukung sentimen terhadap mata uang kripto.
Fokus pada Jumat akan tertuju pada inflasi Jerman, PDB Inggris, data perumahan Kanada, produksi industri AS, dan pidato para pejabat FOMC. Dolar AS yang menguat, didukung data klaim pengangguran dan manufaktur yang kuat, dapat menekan emas, perak, minyak mentah, dan mata uang kripto. EURUSD, GBPUSD, dan mata uang Antipodean menghadapi risiko penurunan, sementara USDJPY mungkin menarik minat penjual di tengah spekulasi intervensi Jepang dan kenaikan suku bunga BOJ. NZDUSD mendapat dukungan dari data PMI yang kuat, sedangkan USDCAD ditopang hubungan China–Kanada meski harga minyak melemah. Saham AS berpotensi menguat tipis, meski trading kemungkinan tetap sepi di tengah beragamnya sentimen global.
Semoga keberuntungan menyertai trading Anda!