
Sentimen risiko sedikit negatif pada awal perdagangan Selasa, sementara pasar menantikan data penting AS di tengah beragam berita perdagangan dan geopolitik serta ketidakpastian mengenai langkah Federal Reserve (Fed) selanjutnya. Minimnya keyakinan membuat mata uang utama dan komoditas bergerak terbatas, sehingga harga emas berhenti sejenak meski imbal hasil Treasury melunak dan dolar AS melemah.
Pada Senin, sentimen sedikit membaik selama jam-jam awal perdagangan di New York sebelum kembali melemah. Perubahan ini terjadi setelah Donald Trump mengatakan bahwa pembicaraan gencatan senjata Ukraina semakin dekat dengan kesepakatan, dengan menyebut diskusi positif bersama para pemimpin Eropa, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Friedrich Merz dari Jerman juga menyampaikan optimisme yang tidak biasa. Meski demikian, trader tetap berhati-hati setelah beberapa upaya sebelumnya gagal membuahkan hasil.
Data AS beragam. Indeks Manufaktur Empire State New York untuk Desember turun ke level terendah dalam tiga bulan, yakni -3,9, dibandingkan perkiraan 10,9 dan angka sebelumnya 18,7. Sementara itu, indeks pasar perumahan National Association of Home Builders untuk Desember tercatat 39, sesuai perkiraan. Gubernur Federal Reserve Stephen Miran mengatakan bahwa harga kembali stabil dan kebijakan seharusnya mencerminkan kondisi tersebut. Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengatakan risiko di pasar tenaga kerja meningkat, sementara risiko inflasi mereda. Ia sangat mendukung pemangkasan suku bunga baru-baru ini. Presiden Federal Reserve Bank of Boston Susan Collins mengatakan bahwa ia mendukung pemangkasan tersebut, tetapi keputusan itu nyaris tidak diambil.
EUR dan GBP masih tertekan oleh sentimen pasar yang berhati-hati terhadap risiko, sementara JPY menguat setelah data awal Indeks Manajer Pembelian (PMI) Jepang untuk Desember menunjukkan pertumbuhan moderat. S&P Global Flash Japan Composite PMI turun menjadi 51,5 dari 52,0, tetapi tetap berada di zona ekspansi selama sembilan bulan berturut-turut. PMI sektor jasa melambat menjadi 52,5, sementara sektor manufaktur masih mengalami kontraksi di 49,7, meski dengan laju terlemah dalam sekitar 18 bulan. Data tersebut mendukung ekspektasi normalisasi kebijakan secara bertahap oleh Bank of Japan (BoJ).
Sementara itu, AS menangguhkan kemitraan teknologi yang baru-baru ini disepakati dengan Inggris, sehingga meningkatkan risiko kebijakan terkait kerja sama teknologi lintas batas. Menurut Financial Times (FT), pemerintah AS menghentikan kemajuan kesepakatan yang disebut Tech Prosperity Deal pekan lalu, meskipun kesepakatan tersebut diumumkan awal tahun ini untuk memperdalam kerja sama di bidang kecerdasan buatan, komputasi kuantum, dan energi nuklir sipil. Pejabat Inggris telah mengonfirmasi penangguhan tersebut, meski belum ada pernyataan resmi dari kedua pihak. Langkah ini dapat membebani sentimen investasi di sektor teknologi canggih yang terpapar tawar-menawar geopolitik.
Di China, USD/CNY turun ke level yang terakhir terlihat pada akhir September 2024, meskipun People’s Bank of China (PBoC) menetapkan fixing harian di atas perkiraan model. China Securities Times melaporkan bahwa para pembuat kebijakan tengah memperdebatkan apakah target pertumbuhan 2026 akan ditetapkan di sekitar 5% atau dalam kisaran yang lebih fleksibel, yaitu 4.5%–5.0%. Hal ini memperkuat ekspektasi akan dukungan kebijakan yang pragmatis di tengah kondisi global yang semakin menantang.
Dolar Australia melemah sebelum stabil setelah data awal Indeks Manajer Pembelian (PMI) Desember menunjukkan pertumbuhan yang melambat tetapi tetap tangguh. S&P Global Flash Composite PMI turun menjadi 51,1 dari 52,6. Angka ini merupakan level terendah dalam tujuh bulan, tetapi menandai ekspansi selama lima belas bulan berturut-turut. Sektor jasa melambat ke 51,0 akibat persaingan dan pertumbuhan ekspor yang lebih lemah, sementara sektor manufaktur membaik ke 52,2 berkat permintaan yang lebih kuat dan pesanan ekspor yang meningkat. Analis di Commonwealth Bank of Australia (CBA) dan National Australia Bank kini memperkirakan Reserve Bank of Australia (RBA) akan menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan 2–3 Februari 2026. National Australia Bank (NAB) juga memperkirakan kenaikan lainnya pada Mei 2026. Secara terpisah, sentimen konsumen Westpac turun tajam 9% menjadi 94,5 pada Desember, kembali berada di bawah level netral 100.
Dolar Selandia Baru masih tertekan setelah data Indeks Harga Pangan November menunjukkan penurunan 0,4% dibandingkan bulan sebelumnya, meskipun harga masih tinggi dibandingkan tahun lalu. Proyeksi fiskal Selandia Baru menunjukkan bahwa anggaran tidak akan kembali surplus dalam lima tahun ke depan, sementara utang bersih diperkirakan mencapai puncaknya di 46,9% dari Produk Domestik Bruto.
New Zealand Debt Management Office memangkas penerbitan obligasi jangka pendek untuk tahun fiskal 2025/26 menjadi NZ$35 miliar dari NZ$38 miliar. Langkah ini meredakan tekanan pasokan dalam waktu dekat, sementara prospek penerbitan untuk jangka menengah tetap lebih besar.
Dolar Kanada tetap stabil, sementara USDCAD bergerak terbatas meskipun harga minyak turun.
Harga minyak mentah turun selama empat sesi berturut-turut hingga mencapai level terendah sejak 21 Oktober. Harga tertekan oleh harapan bahwa kemajuan dalam pembicaraan gencatan senjata di Ukraina pada akhirnya dapat mendorong pelonggaran sanksi terhadap minyak Rusia.
Mata uang kripto masih tertekan. Bitcoin dan Ethereum diperdagangkan di dekat level terendah dua pekan selama tiga hari berturut-turut. Sementara itu, Strategy, yang sebelumnya bernama MicroStrategy, turun bersama Bitcoin sehingga memicu kekhawatiran tentang eksposur terhadap leverage.
Saham masih melemah, dengan saham Asia-Pasifik turun mengikuti pelemahan Wall Street. Indeks-indeks utama AS ditutup lebih rendah, sementara NASDAQ turun untuk sesi ketiga berturut-turut. Saham Broadcom merosot lebih dari 5% meski mencatatkan laba dan pendapatan di atas ekspektasi serta memberikan proyeksi yang kuat. Investor lebih menyoroti margin yang sedikit lebih rendah.
Secara keseluruhan, kinerja mata uang menunjukkan dolar AS yang bergerak tanpa arah jelas, yen Jepang yang menguat, pelemahan tipis EUR dan GBP, tekanan berlanjut pada AUD dan NZD, CAD yang stabil, serta kripto dan ekuitas global yang masih melemah di tengah sentimen risiko yang berhati-hati.



EURUSD mengakhiri tren kenaikan selama empat hari karena pembeli mengambil jeda menjelang rilis data awal penting Indeks Manajer Pembelian (PMI) Desember dari Uni Eropa (UE), Jerman, dan AS, serta data ketenagakerjaan bulanan dan penjualan ritel AS. Pada Senin, pasangan ini mendapat dukungan dari data produksi industri UE yang lebih kuat dan Indeks Harga Grosir (WPI) Jerman yang positif, didukung oleh pelemahan dolar AS (USD).
Di sisi lain, GBPUSD masih berada di bawah tekanan karena pasar mencerna dampak perselisihan perdagangan AS–Inggris dan bersikap hati-hati menjelang rilis data ketenagakerjaan Inggris dan AS, serta sejumlah data penting AS lainnya.
Sementara itu, USDJPY melemah karena penguatan yen didukung oleh daya tarik yen Jepang (JPY) sebagai aset safe haven tradisional dan data domestik yang lebih kuat, yang memperkuat kecenderungan Bank of Japan (BoJ) untuk menaikkan suku bunga. Hal ini berlawanan dengan kekhawatiran dovish yang masih membayangi Federal Reserve (Fed).
Sentimen yang memburuk menekan AUDUSD dan NZDUSD. Kekhawatiran akan kenaikan suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA) berpadu dengan data Selandia Baru yang beragam, membuat kedua pasangan mata uang tersebut mencatat penurunan selama empat hari berturut-turut. Hal ini mungkin disebabkan oleh hubungan erat keduanya dengan China serta perannya sebagai barometer risiko.
Sebaliknya, USDCAD bergerak naik tipis dan mengabaikan pelemahan harga minyak mentah, salah satu ekspor utama Kanada. USDCAD mendapat dukungan dari kecenderungan kebijakan Bank of Canada (BoC) yang hawkish, perkembangan politik Kanada yang optimistis, serta ekspektasi akan potensi kesepakatan dagang antara Kanada dan sejumlah ekonomi utama.
Emas mencatat penurunan harian pertamanya dalam lima sesi, terkoreksi dari level tertinggi tujuh pekan yang dicapai minggu lalu, seiring pasar bersiap menghadapi rilis data penting AS. Pernyataan beragam dari Federal Reserve (Fed) dan meredupnya harapan akan kesepakatan damai Ukraina–Rusia mengurangi permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Sementara itu, tantangan yang terus dihadapi China dan India, dua konsumen emas terbesar di dunia, masih menguji minat beli, meski faktor-faktor ini belakangan sulit mendorong pergerakan pasar. Terlepas dari koreksi hari ini, pergerakan tersebut kemungkinan tidak akan mengancam tren bullish emas yang lebih luas.
Harapan bahwa minyak Rusia akan kembali ke pasar global, yang didorong oleh potensi kesepakatan damai Ukraina–Rusia, berpadu dengan kekhawatiran terhadap permintaan energi dan menekan harga minyak mentah, yang kerap disebut emas hitam.
Sementara itu, Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) melanjutkan penurunan selama tiga hari berturut-turut di tengah pesimisme yang meluas di pasar cryptocurrency menjelang konsolidasi akhir tahun, setelah tren bullish yang kuat selama dua tahun.
Sementara itu, indeks acuan Wall Street ditutup melemah tipis, sehingga membebani saham Asia-Pasifik. Kekhawatiran seputar Broadcom terutama menyeret saham teknologi dan aset berisiko lainnya.
Kalender ekonomi hari Selasa padat dengan data ketenagakerjaan AS dan Inggris, Penjualan Ritel AS, angka Sentimen ZEW Jerman dan Uni Eropa (EU), serta data Indeks Manajer Pembelian (PMI) bulan Desember untuk sejumlah ekonomi utama. Pasar cenderung memperkirakan sikap dovish dari Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), sementara Dolar AS (USD) masih kesulitan pulih. Data ketenagakerjaan, aktivitas, dan belanja AS yang lebih lemah dapat mendorong Greenback melemah.
USD yang lebih lemah dapat memberi peluang penguatan bagi mata uang utama, termasuk dolar Australia (AUD) dan dolar Selandia Baru (NZD). Namun, mata uang kripto dan saham dapat tetap berada di bawah tekanan akibat penghindaran risiko yang meluas dan melemahnya saham teknologi.
Harga emas diperkirakan akan tetap menguat, meskipun berpotensi melemah intraday akibat konsolidasi pasar menjelang rilis data/peristiwa penting.
Semoga keberuntungan menyertai trading Anda!