
Musim liburan tampaknya masih mencengkeram pasar di tengah kalender data ekonomi yang sepi dan beragamnya berita utama terkait risiko. Dalam kondisi ini, para trader kesulitan mempertahankan pemulihan Dolar AS karena penurunan suku bunga Fed pada 2024 tampaknya akan menjadi kenyataan, meskipun sebagian besar pembuat kebijakan menepis kekhawatiran dovish.
Pergerakan Dolar AS yang lesu gagal menghalangi pembeli komoditas, tetapi harapan akan stimulus dari China mendorong mata uang Antipodean naik tipis. Sementara itu, USDJPY mencatat kenaikan terbesar di antara pasangan mata uang G10 setelah Bank of Japan (BoJ) mempertahankan kebijakan moneternya. EURUSD dan GBPUSD juga naik tipis, sedangkan AUDUSD dan NZDUSD melanjutkan rebound sebelumnya.
Harga emas mencatat penurunan tipis dan minyak mentah mengakhiri tren kenaikan selama empat hari, sementara saham di AS dan kawasan Asia-Pasifik bergerak menguat.
Di sisi lain, BTCUSD dan ETHUSD juga melanjutkan rebound sejak awal pekan, sementara para pelaku industri kripto membahas persetujuan ETF spot dengan SEC AS.
Berikut adalah pergerakan terbaru aset-aset utama:



Pembelaan para pejabat Fed terhadap kebijakan moneter yang ketat belum mampu memikat para bull Dolar AS, meskipun kekhawatiran geopolitik dan data perumahan yang sedikit lebih baik menahan pelemahan Greenback. Sementara itu, harga minyak menjadi sorotan karena para produsen utama terus mengisyaratkan pengurangan pasokan lebih lanjut dan masalah di Laut Merah masih berlanjut. Namun, prospek melemahnya permintaan dan langkah AS untuk meredakan kekhawatiran geopolitik di Timur Tengah menjadi tantangan bagi para bull energi.
Pada Senin, para pejabat Houthi mengatakan bahwa mereka menolak kesepakatan AS untuk memulihkan perdamaian di Yaman dan menghentikan serangan di Laut Merah. Selain itu, sejumlah laporan menyebutkan bahwa AS siap mengumumkan detail Operasi Prosperity Guardian, yang akan melindungi pelayaran di Laut Merah dan menjadi bagian dari kemitraan yang telah ada antara 39 negara untuk memberantas pembajakan.
Hal ini bertolak belakang dengan laporan Badan Informasi Energi AS (EIA) yang mengindikasikan kenaikan produksi minyak serpih selama dua bulan berturut-turut. Namun, laporan tersebut juga memperkirakan sedikit penurunan produksi pada Januari.
Di tempat lain, Indeks Pasar Perumahan NAHB AS naik menjadi 37 dari 36, sementara Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee menyebut adanya perbaikan signifikan pada inflasi dan sedikit kecenderungan untuk memangkas suku bunga tahun depan. Senada dengan itu, Presiden Fed San Francisco Mary Daly mengatakan bahwa kebijakan moneter “akan tetap cukup ketat meskipun suku bunga dipangkas tiga kali tahun depan.”
Badan perencana negara China, yaitu Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional Republik Rakyat Tiongkok (NDRC), menyampaikan rincian persetujuan 144 proyek investasi senilai 1,28 triliun yuan sepanjang 2023. Juru bicara NDRC juga mengatakan bahwa mereka akan terus meningkatkan efisiensi dan efektivitas investasi serta mendorong pertumbuhan konsumsi yang stabil. Hal ini membuat para trader tetap berhati-hati sekaligus optimistis meskipun belum ada kemajuan signifikan di pasar.
Meski demikian, Bank of Japan (BoJ) sesuai dengan perkiraan pasar dengan mempertahankan kebijakan moneternya. Bank sentral Jepang itu juga mempertahankan panduan ke depannya dengan menegaskan kisaran Yield Curve Control (YCC) saat ini di bawah 1,0%. USDJPY awalnya melonjak setelah pengumuman tersebut karena para pembuat kebijakan menepis kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga pada 2024.
Selain itu, risalah Reserve Bank of Australia (RBA) menunjukkan bahwa keputusan untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah diambil setelah mempertimbangkan kenaikan suku bunga sebesar 25 bp. Hal ini kemudian menekan para pembeli AUDUSD.
Selain itu, Gubernur Bank of Canada (BoC) Tiff Macklem mengisyaratkan pemangkasan suku bunga pada 2024 dan mendorong para penjual USDCAD, meskipun harga minyak mentah tetap menguat. Sementara itu, NZDUSD kesulitan membenarkan kuatnya data kepercayaan bisnis dan aktivitas ANZ untuk bulan Desember.
Perlu dicatat bahwa pembuat kebijakan European Central Bank (ECB) Peter Kazimir berupaya membela kubu hawkish dengan mengatakan, “Optimisme terhadap inflasi belum cukup untuk menyatakan kemenangan dan beralih ke tahap berikutnya.”
Meski kalender ekonomi masih minim data/peristiwa berdampak tinggi, terutama setelah pengumuman BoJ, angka final inflasi Zona Euro untuk November dan data pasar perumahan AS akan menarik perhatian para trader momentum. Perkembangan di Laut Merah dan berita seputar China juga penting untuk dicermati, begitu pula pidato para bankir sentral. Mengingat ekspektasi penurunan suku bunga pada 2024 yang tengah menguat, sentimen risk-on kemungkinan besar akan bertahan. Hal ini akan menekan Dolar AS, sekaligus mendukung komoditas dan mata uang Antipodean. Namun, perlu dicatat bahwa minimnya partisipasi pasar dapat membantu greenback menguat jika data AS membaik.
Semoga keberuntungan menyertai trading Anda!