
Selera risiko masih lemah meski pasar kembali menunjukkan ketidakpastian pada awal perdagangan Jumat. Kekhawatiran geopolitik terkait Israel, ditambah imbal hasil yang tinggi, meredam optimisme, meski Indeks Dolar AS (DXY) berada di jalur untuk mencatat penurunan mingguan.
Pidato Ketua The Fed Powell pada Kamis dan data AS yang beragam menekan Dolar AS pada hari sebelumnya. Namun, trading yang lesu memberi kesempatan kepada para penjual dolar untuk beristirahat sejenak, terutama karena minimnya data/peristiwa penting.
Dengan demikian, komoditas dan mata uang Antipodean berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan, dipimpin oleh harga emas yang mencapai level tertinggi dalam tiga bulan. Perlu dicatat bahwa EURUSD kesulitan menarik minat para bull, meski pergerakan mingguan tampak positif, saat pasar bersiap menghadapi rapat kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) pekan depan. Meski demikian, GBPUSD masih tertekan dan USDJPY bergerak sedikit lebih tinggi di tengah data Inggris yang lemah dan sikap Jepang yang mempertahankan kebijakan uang longgar, serta imbal hasil yang menguat.
Di sisi lain, BTCUSD berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam empat bulan, sementara ETHUSD mengakhiri tren penurunan selama dua pekan di tengah optimisme terkait persetujuan ETF.
Berikut adalah pergerakan terbaru aset-aset utama:



Meski imbal hasil obligasi Treasury berada di level tertinggi dalam beberapa tahun dan sentimen pasar cenderung risk-off, Dolar AS bersiap mencatat kerugian mingguan karena pernyataan Fed gagal memperkuat ekspektasi hawkish. Persiapan pasar menjelang rilis awal PMI Oktober dan pertemuan kebijakan moneter ECB pekan depan juga dapat menjadi faktor yang berpengaruh. Namun, fundamental AS yang relatif lebih kuat membuat Dolar AS tetap berada dalam radar trader bullish, yang pada gilirannya menantang pemulihan terbaru pada komoditas serta dolar Australia dan Selandia Baru.
Ketegangan geopolitik terus merusak selera risiko seiring Israel bersiap melancarkan invasi darat ke Gaza, terutama setelah Presiden AS Joe Biden secara terbuka mendukung upaya untuk menyingkirkan Hamas. Perlu dicatat bahwa Presiden Biden berpidato kepada rakyat pada Jumat dini hari waktu Asia dan mengkritik Iran serta Rusia atas invasi mereka ke Gaza dan Ukraina. Pemimpin AS itu juga menyatakan kesiapan untuk memberikan dukungan penuh kepada Israel dalam pertempuran, sekaligus menyampaikan rencana pengiriman bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza. Hubungan AS-Tiongkok belakangan ini tampak membaik. Hal ini, bersama data yang beragam dan kekhawatiran terhadap Fed, turut menekan Dolar AS.
Mengenai data terbaru, jumlah klaim tunjangan pengangguran awal mingguan AS turun ke level terendah dalam tujuh bulan, sementara Philadelphia Fed Manufacturing Index membaik menjadi -9,0 pada Oktober, dari -13,6. Selain itu, penjualan rumah yang sudah ada turun 2,0% pada September, dibandingkan dengan penurunan 0,7% pada periode sebelumnya. Meski demikian, Ketua Fed Jerome Powell mengesampingkan kenaikan suku bunga dalam jangka pendek dan memuji kenaikan imbal hasil obligasi, seraya mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. Namun, Presiden Federal Reserve Bank of Dallas Lorie Logan kembali menegaskan dukungannya terhadap suku bunga yang lebih tinggi.
Pada Jumat dini hari, pasar berkonsolidasi setelah pergerakan terbaru di tengah agenda ekonomi yang sepi dan minimnya data/peristiwa penting. Meski demikian, People’s Bank of China (PBoC) mempertahankan Loan Prime Rate (LPR) tenor 1 tahun dan 5 tahun masing-masing tetap di 3,45% dan 4,20%, sementara PPI Jerman turun dan data penjualan ritel Inggris untuk September menunjukkan angka yang belum jelas.
Pekan yang bergejolak ini kemungkinan akan berakhir dengan pergerakan yang lebih lemah, di tengah minimnya katalis utama dalam kalender ekonomi. Momentum juga dapat tertahan oleh kekhawatiran menjelang rilis PMI awal bulan Oktober untuk sejumlah ekonomi utama pekan depan, serta rapat kebijakan moneter ECB dan BoC. Selain itu, perkembangan seputar Israel, Rusia, dan China akan turut memicu ketegangan geopolitik dan memengaruhi pergerakan pasar. Meski demikian, imbal hasil obligasi Treasury AS kemungkinan tetap menguat dan dapat membatasi pergerakan Dolar AS hingga batas tertentu. Hal ini pada gilirannya mengisyaratkan bahwa Dolar AS dapat pulih pekan depan.
Semoga keberuntungan menyertai trading Anda!